Kamis, 11 April 2013

SUSUR GUA ( CAVING )

Definisi Gua
  • Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota Komisi X UNESCO PBB yang berkedudukan di Wina Austria :“ Gua adalah setiap ruangan  bawah tanah yang dapat dimasuki orang “
  • Menurut R.K.T.Ko (Speleogiawan) : “Setiap lubang di bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui sistem percelahan, rekahan atau aliran sungai yang kadang membentuk suatu lintasan aliran sungai bawah tanah”
Ilmu yang mempelajari tentang gua adalah Speleologi dimana secara morpologi berasal dari bahasa Yunani  yakni “Spalion” yang berarti Gua dan “logos” yang artinya Ilmu. Jadi secara harfiah Speleologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gua beserta lingkungannya

Sejarah Penelusuran Gua

Tidak ada catatan resmi kapan manusia mulai melakukan penelusuran gua. Berdasarkan penemuan-penemuan oleh ahli, berupa tulang belulang, dan juga lukisan – lukisan di dinding-dinding gua, dapat disimpulkan bahwa manusia sudah mengenal gua sejak puluhan tahun silam yang tersebar di semua benua.


  • Menurut catatan yang ada, Penelusuran gua pertama kali dilakukan oleh John Beaumont, seorang ahli bedah dari Somerset, England pada tahun 1674. Dia seorang ahli tambang dan geologi amatiran dan tercatat sebagai orang pertama yang menelusuri sumuran (potholing) sedalam 20 meter dan menemukan ruangan dengan panjang 80 meter, lebar 3 meter, serta ketinggian plafon 10 meter, dengan menggunakan penerangan lilin dan dia melaporkan penemuannya ini pada Royal Society yang merupakan Lembaga Pengetahuan Inggris
  • Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua – gua dengan tujuan ilmiah adalah Baron Johan Valsavor (Slovenia) antara tahun 1670-1680. Dia berhasil memasuki 70 gua dan membuat peta, sketsa, dan melahirkan buku setebal 2800 halaman
  • Wisata gua pertama kali tercatat tahun 1818, ketika Kaisar Habsbrug Francis I dari Austria meninjau gua Adelsberg (sekarang bernama gua Postojna) yang terletak di Yugoslavia. Kemudian wiraswastawan Josip Jersinovic mengembangkannya sebagai tempat wisata dengan memudahkan tempat itu dapat dicapai, memberi penerang dan pengunjung dikenai biaya masuk. New York Times pada tahun 1881 mengkritik bahwa keindahan gua telah dirusak hanya untuk mencari keuntungan semata.
  • Sedangkan penelusuran gua di Indonesia sendiri, mulai muncul pada tahun 1980 dengan berdirinya “Specavina/ Garba Bumi” oleh Norman Edwin dan “Hikespi” oleh Dr. R.K.T. Ko meskipun faktor mistik dan magis masih melekat erat di gua – gua yang ada di Indonesia baik gua sebagai tempat pemujaan, tempat sesaji maupun bertapa. 
Proses Terbentuknya Gua

Didunia ini terdapat berbagai jenis gua dan memiliki perbedaan ditinjau dari segi proses terbentuknya yakni:
  • Gua Lava adalah gua yang terbentuk akibat aktifitas vulkanik dari gunung berapi. Ketika terjadi letusan, lava yang dimuntahkan mengalir kebawah membentuk alur-alur memanjang. Ketika bagian atas/permukaan lava sudah membeku, laca yang dibawah permukaan masih mengalir terus sehingga menimbulkan rongga atau lorong. 
  • Gua Littoral adalah gua yang terbentuk didaerah tebing pantai, akibat pengikisan yang dilakukan oleh angin dan gelombang laut. 
  • Gua Kapur adalah gua yang terjadi didalam daerah batuan limenstone, akibat dari pengikisan air terhadap batuan kapur di dalam tanah. Gua kapur inilah yang menjadi obyek penelusuran dan ekspoitasi bagi pencinta alam atau penelitian yang tidak ada habis-habisnya. Dan 90% dari gua-gua di dunia adalah gua yang materi pembentuknya dari batu kapur
  • Gua es adalah Gua yang materi pembentuknya terdiri dari es sebagai akibat dari es yang mencair sebagian.
Zona dalam Gua

Pada dasarnya zona dalam gua terbagi empat, yakni:
  • Zona terang, daerah yang merupakan mulut gua, cahaya masih sama seperti di luar gua 
  • Zona senja, merupakan daerah di dalam gua dimana tumbuhan hijau masih bisa tumbuh. Cahaya pada daerah ini pada senja hari. 
  •  Zona gelap dengan suhu berubah, merupakan daerah yang dicirikan dengan suhu dan kelembaban yang masih bisa berubah setiap saat sesuai dengan perubahan keadaan cuaca luar 
  • Zona gelap dengan suhu tetap (gelap abadi), merupakan daerah yang terjauh dari mulut gua dengan suhu dan kelembaban yang selalu tetaP
Jenis-jenis Gua 

Secara garis besar gua terbagi dua jenis yakni gua horisontal dan gua vertical
·      Gua horisontal adalah, gua yang berbentuk lorong yang mendatar dan memanjang
·      Gua vertikal adal gua yang berbentuk lubang tegak lurus

Habitat dalam gua
  • Troglopile, yaitu binatang yang menyukai kegelapan, tetapi masih mencari makan di gua tersebut. Contohnya : kelelawar dan burung walet. Sekalipun tempat tinggal mereka sudah termasuk dalam zona gelap total, tetapi fluktuasi suhu dan kelembaban masih konstan. Jadi troghopile memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal dan tempat berlindung.
  • Trogloxine, yaitu binatang yang hanya secara kebetulan ada didalam gua, karena sebenarnya binatang itu asing bagi kehidupan gua tersebut. Contohnya : tikus, ular, dan sebagainya. Binatang ini biasanya terdapat pada mulut gua sampai zona senja. 
  • Troglobion, yaitu binatang yang seluruh siklus kehidupannya sudah dilakukan di dalam gua, sehingga memiliki sifat yang berbeda dengan binatang sejenisnya di permukaan tanah. Contohnya: ikan yang sudah sekian lama hidup dan berkembang biak dalam gua pada zona tertentu mengalami perubahan fisik menjadi tidak berpigmen, penglihatan tidan berfungsi dan alat peraba menjadi lebih telanjang. Hal demikian dapat terjadi setelah melalui waktu yang lama dan habitanya sudah benar-benar terisolasi dari pengaruh luar.
Peralatan dan perlengkapan penelusuran gua
Kriteria pemilihan perlengkapan dan peralatan
·      Standard keamanan (safety)
1.    UIAA (Union International des Associations d’Alpinisme)
2.    CE (conformite aux exigences)
3.    EN (European Norm)
4.    CEN ( Comite Europeen de Normalisation)
·      Kekuatan dan daya tahan
Alat yang digunakan harus diketahui kekuatan dan beban maksimal yang direkomendasikan. Alat harus tahan terhadap situasi dan kondisi gua yang rentan terhadap gesekan, air, lumpur maupunbatuan kapur. Peralatan gua vertikal direkomendasikan yang telah melewati ”individually tested” yang ditandai dengan beban maksimal ”MAX” dan beban aktif ”USE
·      Fungsionalitas
Pemilihan peralatan perlu diperhatikan fungsi alat, hal ini berkaitan dan penggunaan yang efektif dan efisien. Selain dari fungsi dasar, perlu di pahami fungsi – fungsi tambahan pada alat. Penggunaan alat akurat, tepat guna dan sesuai dengan kebutuhan. Faktor yang perlu diperhatikan adalah berat yang hal ini berpengaruh terhadap daya tahan/stamina dari penelusur gua.

Uraian peralatan pribadi penelusuran gua :
·      Pakaian/Cover All
- Fungsi                    : Pakaian pelindung
- Bahan                    : PVC, Nylon fabric,
-Keterangan      : Bahan cover all mampu melindungi dari gesekan, basah dan dingin, disesuaikan dengan tipe gua.
·      Sepatu
-  Fungsi                   : Alas dan melindungi kaki
-  Jenis                      : Sepatu Boot, PDL
-  Keterangan         : Sepatu mampu melindungi mata kaki, tahan terhadap gesekan, grip dan sol tahan air dan lumpur. 
·      Helm
-  Fungsi                   : Melindungi kepala dari benturan
-  Jenis                      : Speleo helmet
-  Keterangan         : Bahan terbuat dari fiber carbon, kevlar atau polycarbonate. Helm di desain mampu meredam benda yang jatuh menimpa helm. 
·      Pencahayaan
-  Fungsi                   : memberikan penerangan
-  Jenis                      : electrical lamp dan carbide model

Uraian Peralatan Kelompok penelusuran gua :
·      Tali karmantel
-  Fungsi                   : Alat utama untuk lintasan SRT
-  Jenis                      : Static dan Dynamic
-  Keterangan         : Hal yang  perlu diperhatikan adalah ukuran diameter  tali karmantel, dan umur tali

·      Carabiner
-  Fungsi                   : sebagai penghubung atau pengkait
-  Jenis                      : carabiner screwgate, non screw, auto lock

·      Harness
-  Fungsi                   : Sebagai penghubung utama badan dan alat lainnya.
-  Jenis                      : Sit harness, Body harness

·      Descender
-  Fungsi                   : Alat turun
-  Jenis                      : Auto stop, Rack, Simple

·      Ascender
-  Fungsi   : Alat naik
-  Jenis      :
a.       Croll / alat naik di dada
b.      Jammer / alat naik di tangan
c.       Basic jammer / alat naik di tangan

·      Maillon Rapid (MR)
-  Fungsi   : sebagai penghubung harness dan alat ascending dan descending
-  Jenis      : Delta MR dan semi circular 

·      Peralatan Rigging
-  Fungsi                   : Untuk membuat anchor / tambatan
-  Jenis                      : Natural anchor : Webbing / sling (turbular dan flat), Bolting Anchor : Hammer, Driver, Spits, Bolting bag, Hanger, Pyton.

·      Cowstail
-  Fungsi                   : Sebagai pengaman dan penghubung ascender
-  Jenis                      : Dynamic rope dan Webbing (spelegyca)

·      Chest Harnest
-  Fungsi                   : sebagai penghubung croll dengan badan
-  Jenis                      : Webbing soft

·      Foot Loop
-  Fungsi                   : Sepagai pijakan kaki
-  Jenis                      : Static rope dan webbing

Ornamen dalam Gua
  • Stalaktic               : Batuan yang berbentuk lonjong diatap Gua
  • Stalakmit             : batuan yang berbentuk lonjong dilantai gua
  • Pilar                       : batuan yang berbentuk tiang
  • Scraw                    : batuan yang berbentuk kecil yang memanjang dan bening (seperti pipet)
  • Mounmilk           : batuan berbentuk payudara yang berwarna seperti susu menempel di dinding gua
  • Chamber             : ruang dalam gua yang lebih besar
  • Dome                    : bentuk langit-langit gua yang menyerupai kuba
  • Gordam               : bentuk langit-langit yang meliuk-liuk (menyerupai gorden jendela)
Bahaya Penelusuran Gua
·      ANTROPOSENTRISME adalah bahaya terhadap manusia ( penelusur gua)
Bahaya – bahaya dari sudut pandang ANTROPOSENTRISME:
     Terpeleset  / terjatuh dengan akibat fatal, atau gegar otak, terkilir, terluka, patah tulang, dsb. Hal ini paling sering terjadi, antara lain karena: penelusur terburu-buru, loncat, salah menduga jarak yang dilangkahi, dsb.
   Kepala terantuk atap gua / stalaktit / bentukan gua lainnya. Akibatnya: luka memar, luka berdarah, gegar otak. Wajib pakai helm.
  Tersesat. Terutama bila lorong bercabang – cabang dan daya orintasi pemimpin regu penelusuran gua kurang baik. Karenanya setiap penelusur wajib dilakukan dengan penuh perhatian oleh setiap penelusur.
   Tenggelam. Terutama apabila nekat memasuki gua pada musim hujan tanpa mempelajari topografi dan hidrologi karst maupun sifat sungai di bawah tanah. Bahaya menjadi semakin nyata kalau harus melewati air terjun atau jeram deras. Apabila kalau harus melakukan penyelaman bebas tanpa alat dan penelusur kurang mahir berenang / menyelam.
  Kedinginan (hipotermia). Hal ini terutama bila lokasi gua jauh di atas permukaan laut, penelusur beberapa jam terendam air, dan adanya angin kencang yang berhembus dalam rolong tersebut. Karenanya harus tepat tahu lokasi mulut gua dan lorong-lorong, ketinggiannya di atas permukaan laut (diukur pakai altimeter), suhu air dan udara dalam gua. Harus pula masuk gua dalam keadaan fisik sehat, cukup makan dan bawa makanan cadangan bergizi tinggi.
    Dehidrasi, Kekurangan cairan. bila sudah timbul rasa haus, sudah ada gejala dehidrasi dan minum cairan sudah terlambat: tidak akan memenuhi kebutuhan lagi. Maka setiap penelusur harus minum secukupnya. Semakin mengeluarkan tenaga, harus cukup istirahat dan minum kembali. Keruntuhan atap atau dinding gua.
  Keracuanan gas. Ini yang paling ditakuti awam. Memang bahaya itu ada, terutama bila sirkulasi dalam gua kurang baik. Gas yang senantiasa ada dalam gua ialah gas.
·      SPELEOSENTRISME yaitu bahaya terhadap gua yang disebabkan oleh manusia (penelusur gua).
Efek negatifnya yaitu:
    Hiruk pikuknya penelusur gua mengusik ketenangan abadi gua dan karenanya juga mengganggu biota gua yang sudah mengadaptasi diri mereka pada kesepian abadi.

     Bau karbit, Asap obor, dapat merusak lingkungan gua dan mengganggu biota gua.
     Coret-coret, pengecatan dinding dan dekorasi gua
     Memasukkan bakteri, cendawan, ragi dari dunia luar ke dalam dan merusak gua mikroekosistem gua.
  Pematahan dekorasi gua untuk dibawa pulang sebagai cindera mata. Pengambilan mutiara gua. Menginjak formasi kalsit atau gipsun yang teramat peka dan mudah rusak.
     Mencemari air dalam gua oleh karbit atau sisa makanan/minuman. Merusak biota gua.
     Lampu terang benderang mengusik biota gua. Dapat menumbuhkan algae yang merusak

 cara mencegah perusakan gua ialah:
     Kode Etik Penelusuran Gua
     Harus ditetapkan sistem perizinan dan rekomendasi ketat.
     Secara konsekuen ditetapkan undang – undang tepat yang melindungi gua dan biota dalam gua.
     Akses tetap dibiarkan sulit
     Larangan media massa menerbitkan artikel mengenai gua-gua indah dan peka.
     Jangan mengajak sembarang orang memasuki gua
     Gua ditutup
     Mengsakralkan gua
     Melarang total memasuki gua
     Tidak menyebarkanluaskan laporan dan peta gua



1 komentar:

  1. thanks buat artikelnya.
    salam kenal dari calon anggoga muda MAEKPA FE UNM ^^

    BalasHapus