Rabu, 10 April 2013

MOUNTAINEERING


Kata Mountaineering secara bahasa artinya adalah teknik mendaki gunung. Dalam bidang Mountaineering. Teknik pendakian terbagi atas tiga yakni :
  • Alfin Taktik adalah teknik pendakian yang dilakukan dimana tim pendaki hanya sekali jalan sampai tujuan (tanpa camp sebelum mencapai puncak). 
  • Himalayan taktik adalah teknik pendakian yang dilakukan dimana sistem pendakiannya tim harus camp sebelum mencapai puncak atau tujuan. 
  • Soloclimbing adalah teknik pendakian yang dilakukan seorang diri.
Mendaki gunung dalam pengertian Mountaineering terdiri dari tiga tahap kegiatan, yaitu :
1.    Hill Walking (Berjalan)
Hill walking atau hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai media utamanya. Hill Walking adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan di Indonesia. Kebanyakan gunung di Indonesia memang hanya memungkinkan berkembangnya tahap ini.
Berikutnya dalam mountaineering adalah scrambling dan merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan yang kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki hal yang paling utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan keseimbangan tubuh.
Level mountaineering yang paling ekstrim adalah climbing yang mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling, dan sederetan peralatan mountaineering lainnya. Kemiringannya sangat ekstrim lebih dari 80 derajat.

2.    Rock Climbing (Memanjat)
Rock Climbing adalah jenis olahraga alam bebas yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, dan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Walaupun kegiatan ini terpaksa harus memisahkan diri dari Mountaineering, namun ia tetap merupakan cabang dari mountaineering itu sendiri. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.
3.    Ice and Snow Climbing (Mendaki Gunung Es)
Kedua jenis kegiatan ini dapat dipisahkan satu sama lain. Ice Climbing adalah cara-cara pendakian tebing/gunung es, sedangkan Snow Climbing adalah teknik-teknik pendakian tebing gunung salju.
Dalam ketiga macam kegiatan di atas tentu didalamnya telah mencakup : Mountcamping, Mountain Resque, Navigasi, PP pegunungan, teknik-teknik Rock Climbing dan lain-lain.
v PERSIAPAN MENDAKI GUNUNG
1.    Pengenalan Medan 
Dalam pengenalan medan seseorang harus memperhitungkan dan menguasai pengetahuan medan, yaitu membaca peta, menggunakan kompas atau GPS serta mengetahui perubahan iklim atau cuaca. Cara lain untuk mengetahui medan yang akan dijalani adalah dengan bertanya pada orang-orang yang pernah mendaki gunung tersebut dan melalui media massa seperti internet. 
2.    Persiapan Fisik 
Persiapan fisik bagi pendaki gunung merupakan kemampuan dasar  sebelum melaksanakan perjalanan yang sangat perlu diperhatikan. Tanpa dukungan kekuatan fisik, keberhasilan perjalanan sangat mustahil untuk dicapai. Maka seorang pendaki juga harus mengetahui masalah refetisi persiapan fisik. 
3.  Persiapan Tim 
Persiapan tim adalah memastikan anggota tim yang akan berangkat, membagi tugas tim dan merencanakan semua yang berkaitan dengan pendakian tersebut. 
4.    Perlengkapan Peralatan dan Perbekalan 
Persiapan peralatan mendaki gunung merupakan tahap awal yang harus dilakukan jika serius ingin menggeluti dunia petualangan yang satu meskipun peralatan mendaki gunung umumnya mahal, namun ini sebanding dengan fungsinya yang merupakan pelindung keselamatan. Seperti: carriel, sepatu, raincoat, tenda, perlengkapan tidur, perlengkapan masak, obat-obatan dan lain-lain.

v PENGETAHUAN DASAR BAGI PENDAKI GUNUNG
1.    Orientasi Medan
a)    Menentukan arah perjalanan dan posisi pada peta
Dengan dua titik di medan yang dapat diidentifikasikan pada gambar di peta. Dengan menggunakan perhitungan teknik/azimuth, tariklah garis pada kedua titik diidentifikasi tersebut di dalam peta. Garis perpotongan satu titik yaitu posisi kita pada peta.
b)   Menggunakan kompas
Untuk membaca peta ada berbagai macam kompas yang dapat dipakai, yaitu tipe, prisma,silva dan lensa.
c)    Peka dalam perjalanan
Dengan mempelajari peta, kita dapat membayangkan kira-kira medan yang akan dilaui atau akan kita daki. menggunakan peta dan kompas sering dalam praktek sangat sukar dalam menerapkannya di gunung-gunung yang ada di Indonesia. Hutan yang sangat lebat atau kabut yang sangat tebal sering kali menyulitkan orientasi. Penanggulangan dari kemungkinan ini seharusnya dimulai dari awal perjalanan, yaitu dengan mengetahui dan mengenali secara teliti tempat pertama yang menjadi awal perjalanan.
2.    Membaca Keadaan Alam
a.    Keadaan udara
§  Awan putih berbentuk seperti bulu kambing. Apabila awan ini hilang atau hanya lewat saja berarti cuaca baik. Sebaliknya apabila awan ini berkelompok seperti selimut putih maka datanglah cuaca buruk.
§  Perbedaan yang besar antara temperature siang hari dan malam hari. Apabila tidak angin gunung atau angin lembab atau pagi-pagi berhembus angina panas, maka diramalkan adanya udara yang buruk. Hal ini berlaku sebaliknya.
§  Sinar merah pada waktu Matahari akan terbenam. Sinar merah pada langit yang tidak berawan mengakibatkan esok harinya cuaca baik. Sinar merah pada waktu Matahari terbit sering mengakibatkan hari tetap bercuaca buruk.
b.  Membaca sandi-sandi yang diterapkan di alam, menggunakan bahan-bahan dari alam, seperti:
a.    Sandi dari batu yang dijejer atau ditumpuk
b.    Sandi dari batang/ranting yang dipatahkan/dibengkokkan
c.    Sandi dari rumput/semak yang diikat
d.   dll
Tujuan dari penggunaan sandi-sandi ini apabila kita kehilangan arah dan perlu kembali ke tempat semula atau pulang.

Oleh “Muhammad Tri Asmil”
Makassar, 03 Maret 2013




0 komentar:

Poskan Komentar