Sabtu, 12 November 2016

Tali - Temali

TALI – TEMALI
A.   SEJARAH

Sejak beberapa abad yang lalu, tali sudah dipergunakan untuk berbagai macam pekerjaan sejak beberapa abad yang lalu. Beberapa yang tertua ditemukan di pekuburan mesir Yang diperkirakan telah ada sejak 5300 tahun yang lalu.
Orang-orang zaman dahulu membuat tali dari serat tanaman yang direkatkan satu sama lain dengan sejenis alat perekat dari damar.  Orang Indian amerika mengepang rambut kuda menjadi tali.  Serat-serat tanaman adalah bahan dasar rami dan tali manila sampai tahun 1940, ketika tali sintetis sudah dikenal.
Pada tahun 1928, pabrik industri “ DU PONT” memulai penelitian dasar untuk mencoba kemungkinan pemakaian bahan-bahan buatan sebagai pengganti bahan-bahan alami
Tahun 1930 tim peneliti DU PONT menemkan polimer sintetis yang dapat dibentuk menjadi kuat dan elastis.  Beberapa dari produk ini akhirnya dikembangkan dan menjadi seperti yang dikenal sekarang sebagai polypropylene, polyester dan nilon.  Pada tahun-tahun selanjutnya, berangsur-angsur bahan dasar tali berkembang menjadi lebih kuat dan mudah didapatkan.
B.   BAHAN-BAHAN PEMBUATAN TALI
1.   Bahan – Bahan Alami
-    Serat-serat daun Tanaman
-    Serat-serat kulit luar kelapa
-    Serat-serat dari sebangsa rerumputan
Bahan yang terbuat dari serat tumbuh-tumbuhan atau serat alam berupa :
a.  Abaca ( Serat Manila ) Termasuk serat yang luas terdapat pada tumbuhan pisang-pisangan, selain keras dan kuat tali ini dikenal dengan tali manila
b. Sisal Jenis tali ini termasuk tali keras, serat ini tahan terhadap air laut dan banyak digunakan sebagai pelindung kabel bajun berlayar atau kain sarung
c.  Juts ( Rami atau Goni ) Jenis tali ini termasuk lunak dan dugunakan ntuk membuat benang, jika dicampur dengan serat yang keras akan menghasilkan tali yang cukup kuat
d. Rotan Biasanya dipakai untuk tali temali seperti pembuatan jembatan dan pembuatan tali ini dicampur dengan tangkai atau tali dengan batang.
2.   Bahan – Bahan Sintetis
Serat ini disebut juga serat buatan yang biasanya dibuat di pabrik  sehingga harganya lebih mahal tetapi jauh lebih kuat dan baik
a.    Polypropylene.
Tali yang terbuat dari bahan ini tidak menjadi lemah bila dalam keadaan basah, oleh karena itu sering dipergunakan dalam olah raga air.  Tali ini juga tahan terhadap kerusakan akibat bahan-bahan kimia, cukup tahan terhadap gesekan dan cukup lentur namun tali ini tidak tahan terhadap sinar matahari yang berlebihan, jadi umumnya tidak dipergunakan untuk kegiatan yang langsung terkena sinar matahari, apalagi yang menyangkut keselamatan manusia.  Walaupun demikian, ada beberapa keunggulan tali ini yaitu ringan, tahan terhadap pembekuan ( karena hanya menyerap sedikit air ) dan harganya relatif rendah.
b.   Polyester
Tali ini memiliki keunggulan ketahanan terhadap gesekan, punya kelenturan yang baik dan juga tegangan putus yang relatif tinggi dengan regangan yang kecil.  Tali ini tahan terhadap kerusakan akibat air, bahan kimia, sinar matahari dan suhu yang tinggi.  Karena ketahanannya yang tinggi terhadap asam dan hanya sedikit kehilangan kekuatan awal dalam keadaan basah karena itu tali ini sangat ideal dipakai dalam olah raga penelusuran gua ( caving ) asalkan asam tidak dibiarkan kering dalam jaringan tali
c.    Nylon
Pada umumnya, nylon 17 % lebih ringan dari polyester.  Tali yang terbuat dari bahan ini sangat elastis  sehingga tidak dapat dipergunakan untuk menarik sesuatu yang agak berat.  Tali ini sangat kuat dan anyamanannya tidak mudah lepas dan usahakan tali ini tidak terkena air laut.  Dari semua bahan sintetis hanya tali ini yang dapat menyerap air walaupun hanya dalam batas tertentu
C.   JENIS – JENIS TALI
Untuk pemakaian tali, sesuaikan jenis tali dengan kegiatan dan keadaan medan, Beberapa jenis tali yang biasa dikenal :
-      Tali Ijuk
-      Tali Rafia
-      Tali Kasur
-      Tali Plastik
-      Tali Manila
-      Tali Hawzerlaid
-      Tali Karmantel
Disini kita akan membahas jenis tali Hawzerlaid dan karmantel karena biasa digunakan untuk kegiatan pemanjatan, penyeberangan, penelusuran gua dll.
Tali Hawzerlaid
Tali ini terdiri dari serat halus yang dipilih menjadi tiga bagian. Tali ini mempunyai kelebihan antara lain :
1.     Tahan terhadap Abrasi
2.     Mempunyai daya lentur tinggi
3.     Kontruksinya sedemikian rupa sehingga memungkinkan lebih   memudahkan pengamatan  terhadap adanya kerusakan pada tali
Kekurangan-kekurangan jenis tali ini antara lain :
1. Cendrung menjadi kaku bila sering dipakai, sehingga agak sukar membuat simpul ( karena itu setelah membuat simpul haruslah diperiksa sebaik-baiknya apakah simpul ini sudah terjalin rapi
2. Bentuknya yang sedemikian rupa cendrung melintir bila dipakai untuk Rapelling (Abseilling)
Tali Karmantle
Tali ini terdiri dari dua bagian yaitu inti (Karn) yang terdiri dari serat-serat berwarna putih dan bagian luar (Mantle) yang merupakan anyaman untuk menutupi bagian inti. Karmantel terbagi atas beberapa bagian berdasarkan konstruksi dan fungsinya, yakni :                                           
1.   Karmantle  yang digunakan untuk Rock Climbing
Bagian intinya dianyaman dan kelenturannya cukup tinggi (25%), lapisan luar terdiri dari anyaman yang tidak terlalu rapat
2.   Karmantle yang digunakan untuk Caving (Speleo Ropa)
Bagian dalamnya tidak dianyam sehingga daya lenturnya rendah (10%), sedangkan lapisan luarnya dianyam rapat sekali sehingga air dan lumpur tidak mudah masuk.  Daya lentur yang rendah dimaksudkan untuk menghindari Yoyo Effect yang membahayakan untuk penelusuran Gua Vertical.
3.    Karmantle  yang digunakan untuk Rescue ( Rescue Rope )
Bagian luarnya tidak dianyam rapat (sama dengan karmantle yang digunakan pada Rock Climbing), tetapi bagian dalamnya  lurus sama dengan  konstruksi  speleo rope sehingga daya lenturnya rendah (10%)
D.  UKURAN TALI
Ukuran tali biasanya Ø 11 mm atau Ø12 mm. untuk Abseilling atau ascending, ukuran tersebut baik di pakai dan dianggap cukup  tahan terhadap gesekan, tidak terlalu berat dibawah dan sesuai dengan besarnya alat yang digunakan untuk Abseilling dan Ascending.
Umumnya Karmantle dengan Ø sebesar itu mempunyai daya beban 2000 kg, kita dapat memakai dengan seenaknya. Di medan sesungguhnya kekuatan tali dapat berkurang karena berbagai hal antara lain :
Gesekan dengan tebing, simpul yan di buat tali tersebut, gesekan dengan alat turun (Descender) yang dibuat dari metal, hentakan – hentakan yang dihasilkan oleh gerakan Abseilling atau Ascending, panas matahari dan lumpur yang menempel pada tali.
Diameter 11 mm adalah ukuran standar yang umum dipergunakan oleh Rockclimbing dengan panjang sekitar 45 m (150 Feet). Ukuran tali Ø 9 mm sering dipakai, ukuran ini relative ringan serta cukup kuat tetapi lebih mudah putus bila tergesek. Sangat tepat bila dipakai untuk pendakian yang mudah dan Snow Climbing serta di pakai menaikkan barang – barang, Sackailing. Ukuran tali Ø 7 mm juga sering di pakai untuk kegunaan seperti di atas.
E.    SIFAT – SIFAT TALI
1. Terhadap Gesekan
Umumnya tebing karang yang tajam terutama Cliff (tebing laut), tali ini    sangat mudah rusak dengan adanya sheat (lapisan luar), core dapat terjaga dengan baik
Bila menggunakan tali untuk menurunkan beban dan terkena gesekan sebaiknya diberi alas (padding)  pada tempat yang tergesek.  Tabu bagi para pendaki untuk menginjak dan berjalan di atas tali.
2. Terhadap Zat Kimia
Karmantle sangat peka terhadap solvent seperti bensin, oli, asam-asam (air aki), serta basa-basa (sabun yang berkadar tinggi).  Wajib menjauhkan zat-zat kimia dari tali
3. Terhadap Panas
Karena merupakan bahan sintetis, tali ini tidak tahan terhadap sinar matahari kecuali bila sebagai belay, sangat bagus bila dikumpulkan pada tempat yang teduh
4. Daya Lentur
Sifat Khusus dari tali ini sangat menolong pendaki karena karmantle dapat memanjang beberapa persen bila beban (beban kejut).  Hal ini akan mengurangi shock yang terjadi bila pendaki jatuh
5. Pengaruh Simpul
Pembuatan simpul pada tali cendrung mengurangi kekuatan ali iti sendiri, Contoh :
Simpul Delapan Ganda mengurangi kekuatan tali sampai 10% dan simpul-simpul lainnya lebih dari itu
F.    MAINTENANCE TALI
Beberapa poin penting yang perlu kita ketahui dalam pemeliharaan/ perawatan tali (Maintenance) :
1.      Bila tidak digunakan, tali harus tetap dalam keadaan tergulung rapi dan sebaiknya digantung
2.      Lakukanlah pemeriksaan tali sebelum dipakai, tali karnmantle sering kali mengalami kerusakan pada bagian dalamnya, biasanya serat-seratnya putus, dan untuk mengecek apakah tali tersebut dalam keadaan baik rabahlah dan telusuri tali tersebut sejengkal demi sejengkal. Bila ada bagian dalam yang putus akan terasa perbedaan diameter tali tersebut.
3.      Jangan menggunakan tali melebihi kekuatan bebannya karena dapat menyebabkan kehilangan elastisnya sehingga tali tersebut dapat putus
4.      Jangan menduduki atau menginjak tali, karena tanah atau kotoran lain dapat menyelinap masuk diantara serat-serat tali tanpa diketahui utamanya pada tali karmantle
5.      Untuk mencegah membrodol ( terbongkar) ujung tali harus dirapikan dengan cara membakarnya dengan korek api atau ditempelkan pada pisau yang telah dipanaska
6.      Hindarilah turun dengan cara menghentak-hentakan (beban) pada tali, karena hal ini dapat mengurangi daya tahan tali secara perlahan-lahan
7.      Hindari tali dari panas matahari, misalnya : tali nylon  akan meleh pada suhu 215-220°C. Untuk menghindari tali dari kerusakan karena panas, ketika Abseilling jangan turun terlalu cepat.  Suatu tes pernah dilakukan telah menunjukkan bahwa kecepatan turun 0,5 m / dtk sedalam 100 m dapat menyebabkan descender yang terbuat dari metal mencapai panas 100 ° C.  sedang kecepatan turun  2 m /dtk  menghasilkan panas 150° C. Kecepatan turun yang aman adalah 12 m / menit
8.      Lepaskanlah semua simpul setelah memakai tali dan cucilah tali setelah  dipakai / digunakan dalam kegiatan eksplorasi atau latihan.  Jangan menggunakan air panas karena dapat menyebabkan kerusakan pada tali
9.      Catatlah riwayat pemakaian tali untuk mengetahui batas kekuatannya
10. Jangan pernah meminjam atau meminjamkan tali jika anda tidak yakin dengan keadaan tali tersebut dan janagan memakai tali yang diduga sudah kurang baik
G.  SIMPUL DAN IKATAN
1.   Simpul
Pengertian dari simpul adalah hubungan tali dengan tali. Dalam tali temali perlu kita mengetahui teknik membuat simpul dan penggunaannya secara cepat, sebab kekuatan tali ditentukan juga oleh kekuatan simpulnya. Simpul yang baik akan kuat, tetapi mudah diuraikan kembali, sebaliknya simpul yang buruk akan mudah lepas, tidak kuat dan mungkin sulit diuraikan kembali.
Penguasaan simpul sangat diperlukan pada kegiatan-kegiatan dialam bebas. Untuk dapat menguasai simpul-simpul yang sangat banyak jenisnya perlu latihan dasar dan penguasaan.
            Beberapa macam simpul sebagai contoh yang harus diketahui :
1.      Simpul Anyam (sheetband knot)
Untuk menyambung dua utas tali yang tidak sama besar dalam keadaaan kering dengan perbandingan 1 : 3.
2.      Simpul Anyam Berganda (Double sheetband)
Untuk menyambing dua utas tali yang tidak sama besar dalam keadaan basah dan kering dengan perbandingan 1 : 5.
3.      Simpul Mati (Reef Knot)
Untuk menyambung dua utas tali yang sama besar dan tidak basah.
4.      Simpul Nelayan (Fisherman’s)
Untuk menyambung dua utas tali yang sama besar, sangat efektif menyambung tali yang licin dan basah.
5.      Simpul Kambing / Tiang (Bowline)
Simpul ini dapat disebut sebagai ratu dari segala simpul, tidak menjerat dan kuat. Karena itu digunakan untuk berbagai keperluan seperti tali pengaman, penambat perahu, simpul penutup pada gulungan tali dan sebagainya.
6.      Simpul Kambing Berganda(Portugas Bowline)
Untuk menolong, mengangkat orang dari bawah atau sebaliknya.
7.      Simpul Prusik (Prusik)
Simpul ini digunakan pada pertolongan dimana dibutuhkan gerak naik keatas melalui sebuah tali. Pada prinsipnya simpul ini menjepit bila mendapat tekanan dan bergeser bila didorong
8.      Simpul Erat (Sheenshank)
Untuk memendekkan tali tampa harus memotongnya
9.      Simpul Erat Berganda / Kursi(Duble Sheenshank)
Untuk mengangkat atau menolong orang dari atas kebawah.
10. Simpul Delapan Ganda (Figure off Eight or Overhand)
Digunakan untuk pemanjatan, dapat juga digunakan untuk mengikat tali pada suatu dan untuk menyambung tali
11. Simpul Pita (Water Knot)
Sering digunakan untuk menyambung webbing / tali pita meskipun dalam keadaan basah
12. Simpul Penarik (Slin Knot)
Sebagai dasar membuat simpul dan dapat membuat simpul ditengah tali.
2.   Ikatan
Ikatan adalah hubungan antara tali dan tali, macam – macam ikatan tergantung bagaimana posisi benda yang akan disatukan tersebut. Mengikat dua buah benda kayu dengan posisi diagonal tentu berbeda dengan cara mengikat 3 buah patok yang bertumpuk ( standard kaki tiga).  Ikatan banyak gunanya antara lain untuk membuat kerangka shelter / bivouac, menyatukan tumpukan kayu / barang berat agar mudah dibawa, membuat tangga kayu dan sebagainya.
Biasakanlah membuat ikatan dengan rapih seperti halnya membuat simpul, karena akan mempengaruhi kekuatan dan daya tahan persatuan benda – benda tersebut
Macam-Macam Ikatan yang perlu diketahiu :
1.      Ikatan Tambat (Timber Hitch)
Merupakan simpul yang sederhana, biasa digunakan untuk menambat perahu, ikatan pada tiang sebagai tali tanda ataupun hal - hal lain. Simpul ini semakin ditarik semakin kuat.
2.      Ikatan Pangkal (Clove Hitch)
Untuk mengikat pada tiang, patok secara tepat dan mudah dilepaskan.
3.      Ikatan Jangkar (Cats Paw or Cow Hitch)
Untuk mengikat pada tiang atau patok yang mudah dilepaskan, kuat bila ditarik kedua talinya.
4.      Ikatan Tarik
Untuk mengikat pada tiang tetapi sangat mudah dilepaskan (untuk turun tebing).
5.      Tarbuck Knot
Simpul ini tidak terlalu baik untuk digunakan pada kanmantle karena acap kali menjerat ataupun terlepas kembali, tidak demikian halnya bila digunakan pada tali serat alam
6.      Taut Line Hitch Knot
Simpul ini sifatnya hampir sama dengan tarbuck, yaitu tidak menjerat atau mengecil kalau talinya ditarik, tetapi dengan mudah digeser kalau ikatannya didorong
7.      Two Half Hitces Knot
Simpul ini menjerat, biasanya digunakan untuk mengikat tali pada pangkal kayu dan juga digunakan untuk menambatkan perahu dalam waktu yang cukup lama tanpa ada kemungkinan lepas.  Untuk para pendaki biasanya digunakan sebagai tali tetap atau untuk mengikat talii tenda.
8.      Bowline on a bight
Simpul ini sangat baik untuk pengamanan di medan yang sulit, biasanya dipergunakan untuk menurunkan pasien
9.      In line Figur Of Eight
Biasanya digunakan untuk mengangkat korban dari bawah
10. Double Line Figur Of Eight
Digunakan untuk mengangkat pasien dari bawah atau sebaliknya
MACAM – MACAM SIMPUL
Tinggalkan komentar
4 Desember 2013 oleh mapalapmkunm
Macam macam simpul (tali temali)
1.8 knot / simpul 8

2.water knot / simpul Pita

3.girth hitch knot / simpul Jangkar

4.double fisherman knot / Dobel Nelayan

5.Perusik Knot / Simpul Perusik

6.Bowline Knot / Simpul Kambing

7.Bunny Ears Knot / double 8


8.clove hitch / simpul pangkal

9.buterfly knot / Simpul kupu-kupu


Macam macam simpul (tali temali)
1.8 knot / simpul 8

2.water knot / simpul Pita

3.girth hitch knot / simpul Jangkar

4.double fisherman knot / Dobel Nelayan

5.Perusik Knot / Simpul Perusik

6.Bowline Knot / Simpul Kambing



7.Bunny Ears Knot / double 8

8.clove hitch / simpul pangkal

9.buterfly knot / Simpul kupu-kupu


0 komentar:

Poskan Komentar